• Home » Food » Featured Reviews
    • Bruschetta: The Taste of Noble Feast
    • 9 years ago by Margaretta Sagala/Stallone Tjia
    • 2471 Hits
    • courtesy of Bruschetta

      Musik opera yang anggun menyambut saya saat saya melangkahkan kaki ke Bruschetta di Hotel Borobudur Jakarta. Para pelayan yang menggunakan dasi kupu-kupu menyapa saya dan membawa saya masuk ke ruangan utama yang didominasi dengan dinding dan pilar-pilar berawarna coklat oranye. Sinar mentari yang menyusup diantara pilar-pilar Mediterania di dalam restoran Italia ini menimbukan atmosfir yang hangat dan ramah.

      Saya segera menikmati hidangan pembukan restoran ini. Apalagi kalau bukan Bruschetta yang disajikan dengan semangkuk sup brokoli. Rotinya terasa sangat renyah dan sup brokolinya sangat nikmat.

      Sementara saya memandangi taman Hotel Borobudur yang tertata rapi, saya merasa agak sombong. He he he senangnya bisa duduk di sebuah restoran kelas atas yang hanya beberapa blok dari istana Negara dan kedutaan-kedutaan besar. Restoran ini juga sudah banyak dapat penghargaan internasional loh.

      Pilar-pilar ruangan yang cantik membuat saya berimajinasi seorang gadis bangsawan Roma.

      Kalau saya seorang gadis bangsawan di Roma, saya pasti bisa menghadiri jamuan-jamuan di vila-vila mewah tiap malam. Saya akan menggunakan sebuah stola yang indah dan menikmati hidangan terbaik dari seluruh dunia sambil melirik para prajurit tampan di pesta-pesta. Kalau saya tiba-tiba melihat seseorang yang tak saya suka, dengan mudahnya saya bisa bersembunji di belakang pilar. He he he benar-benar imajinasi yang seru.

      Yah, mungkin saya masih bisa mewujudkan mimpi saya dengan sedikit perubahan. Saya jelas bisa mendapatkan makanan dan minuman terbaik di Bruschetta. Saya bisa mengenakan gaun dan tentunya melirik para diplomat muda tampan ataupun para pejabat pemerintah yang masih muda. Sembunyi dari bos juga bukan masalah karena banyaknya pilar untuk bersembunyi di restoran itu.

      “Bruschetta adalah makanan ‘penyambut’ di restoran ini. Setiap hari, kami menyajikan bruschetta dengan bumbu yang berbeda,” kata Evi Rumondang, public relation officer dari Hotel Borobudur yang menemani saya.

      Sementara menunggu beberapa hidangan dari menu Venetian Tapas, saya menghabiskan sejumlah roti Italia yang renyah. Bruschetta menyajikan enam jenis roti Italia yang sangat enak untuk hidangan pembuka. Oh ya, mungkin pembaca bingung dengan apa yang saya maksud dengan Venetian Tapas.

      Venetian Tapas sebenarnya adalah nama menu makanan kecil dari Spanyol yang sudah terkenal sampai seluruh dunia termasuk di Italia. Di Bruschetta sendiri menyediakan delapan jenis tapas yang dikreasikan a la Italia. Kami pikir menu ini cocok untuk orang Indonesia yang suka untuk merasakan berbagai jenis makanan,” ungkap Evi.

      Hidangan utama pertama yang tiba adalah Foie Gras yang terbuat dari hati bebek yang dipanggang dan disajikan dengan acar sayuran, crostino, dan sirup cranberry yang wangi. Hidangan mewah ini sangat kaya akan rasa.

      Hidangan kedua adalah Gambero yang dibuat dari udang yang dicampur dengan bawang putih dan dimasak dengan anggur putih, cabe segar, basil, mentega manis, dan bawang putih goreng. Rasa mentega dalam hidangan ini sangat kuat dan meningkatkan nafsu makan saya. Hidangan ini terasa asam dan juga manis. Kalau vampire memang ada di dunia ini, saya kasihan pada mereka karena tak bisa menikmati Gambero.

      Tapas lainnya yang tidak boleh dilewatkan antara lain Pesce Crudo, Pesce Arrosto, Salmone, dan Bruschetta de Tonno. Kesemua tapas yang baru disebut diolah dari ikan segar dan tentu saja sehat.

      Saya juga mencicipi Melanzane yang terbuat dari terong yang diisi dengan ricotta, keju parmesan, tomat, dan mozzarella segar. Saya mengedipkan mata tak percaya setelah mencicipinya. Kok bisa ya mereka buat hidangan begitu lezat dari terong?

      Akhirnya, tibalah Pizza Diavola, primadona dari Bruschetta. Rotinya yang cukup tipis dengan topping tomat, beef salami, mozzarella, dan basil dipanggang dalam sebuah oven yang menggunakan kayu bakar. Rasa pizza ini sulit untuk saya gambarkan. Saya hanya bisa mengatakan bahwa rasanya sangat ‘spesial’.

      Setelah menikmati sekian banyak hidangan, saya menilai bahwa koki Bruschetta Philip F. Iannuccilli betul-betul hebat dalam membuat campuran bumbu yang sesuai selera Indonesia.

      Dia cukup berani bereksperimen dengan rasa makanan yang kuat. Jelas kata ‘hambar’ tak cocok untuk mengambarkan hidangannya. Dengan berat had, saya terpaksa mengakhiri makan siang ala Roma saya.

      Syukurlah saya masih bisa kembali untuk mewujudkan mimpi bangsawan saya. Mungkin lebih baik kalau saya mengunjungi restoran ini setelah pukul 7. Menurut Evi, ada pentas gitar atau piano pada malam hari ini untuk menghibur para pengunjung.

      Fasilitas ekstra restoran: tersedia listrik yang bisa digunakan secara bebas oleh pengunjung, tersedia menu anak, tersedia menu vegetarian, tersedia toilet untuk kaum difabel

    • TAGGED: