• Home » Food » Featured Reviews
    • Stonegrill.. a trendy way of eating out
    • 9 years ago by i.ramadhan
    • 2051 Hits
    • courtesy of SG

      Pernahkah anda membayangkan repotnya dahulu kala saat nenek moyang kita berkumpul mengelilingi api unggun (yang panas!) dan memanggang potongan daging untuk makan malam? Untunglah cara memasak seperti itu telah mengalami banyak perbaikan setelah berabad-abad lamanya. Namun, seperti umumnya tren fashion, tren makanan pun berputar ibarat roda. Masyarakat haus akan sesuatu yang ?baru?, dalam hal ini adalah hidangan yang dimasak ala primitif. Seperti yang bisa dinikmati oleh para pecinta kuliner di sebuah restoran di yang buka di kawasan Pondok Indah, Mega Kuningan dan Pluit Junction, yaitu Stonegrill. Berasal dari Melbourne (Australia), waralaba internasional ini telah berdiri di seluruh penjuru dunia seperti Hong Kong, Seoul, London, Hawaii, Vancouver dan yang baru-baru ini dibuka di Yunani dan Dubai. Di Stonegrill, pengunjung diberi kesempatan memasak sendiri hidangan mereka di atas permukaan sebuah batu vulkanis yang sangat panas (400 derajat Celsius) yang diletakkan di atas meja tempat mereka makan. Konsep yang ditawarkan disini adalah pengunjung diberikan sepotong besar daging untuk dimasak sesuai selera (rare, sedang atau matang). Ya, anda harus memanggangnya sendiri. Di restoran steak pada umumnya, kematangan daging yang disajikan biasanya tergantung dari chef yang memasak. Tapi tidak di Stonegrill. Disini anda bisa memanggang sesuai dengan keinginan anda. Saya sarankan anda memanggang daging steak anda hingga tingkat kematangan rare atau medium, supaya anda bisa merasakan manisnya cairan yang keluar dari daging steak anda. Rahasia lain untuk merasakan nikmatnya steak di Stonegrill adalah jangan menambahan saus apapun meskipun disediakan saus di meja anda, karena saus akan menutup rasa alami daging impor pilihan yang anda panggang. Cobalah anda rasakan gigitan pertama steak yang anda panggang tanpa saus dan hanya menggunakan sedikit garam dan merica. Dijamin anda tak ingin berhenti menikmatinya. Sebagian orang pergi ke restoran steak dan yang bisa mereka rasakan hanya saus dari steak tersebut, bukannya rasa daging berkualitas. Di Stonegrill justru kebalikannya. Saking bagusnya kualitas daging yang dihidangkan, anda tak perlu menambahkan saus apapun lagi. Daging berkualitas tinggi itulah yang membuat hidangan di sini agak sedikit mahal. Satu hal lagi yang membuat memasak di atas batu cocok disebut sebagai tren, karena memasak seperti ini tak membutuhkan minyak dan saus, sehingga sesuai dengan kecenderungan masyarakat kota besar yang mulai melirik pola hidup sehat. Dalam kunjungan saya ke Stonegrill beberapa waktu lalu, Ms. Elya (Rest. Manager Stonegrill Kuningan) menyarankan saya mencoba menu Portobello Mushrooms on the Stone. ?Ini merupakan signature dish kami dan di Stonegrill manapun di seluruh dunia pasti anda akan menemukan menu ini. Jadi, menu ini wajib dicoba untuk mereka yang baru pertama kali berkunjung!? ujarnya. Menyadari bahwa ini adalah kali pertama saya berhadapan dengan cara memasak seperti ini, Ms. Elya dengan sabar menjelaskan dan memeragakan bagaimana caranya memasak di atas batu persegi tersebut. Jamur Portobello-nya benar-benar lezat dan hanya membutuhkan waktu 2 menit agar siap disantap. Apabila dimasak terlalu lama jamur ini akan mongering dan rasa manisnya berkurang. Hidangan utama (sekaligus favorit pengunjung) adalah Australian Black Angus Tenderloin Steak. Daging steak-nya tebal dan SANGAT lezat karena memiliki tekstur yang lembut dan juicy. Bahkan saya sendiri tak percaya kalau hanya menggunakan garam dan merica saja bisa menciptakan rasa yang membuat mulut saya tak ingin berhenti mengunyah. Berikutnya adalah steak Australian Black Angus Rib-Eye dengan ukuran yang cukup LEBAR dan hampir menutupi seluruh permukaan batu. Tidak seperti tenderloin, rib eye ini lebih cepat matangnya. Dan untuk menghindari agar tidak kematangan dan menjadi kering, potongan rib eye yang dirasa telah cukup matang bisa ditaruh diatas irisan bawang bombay. Semua hidangan utama disajikan bersama dengan kentang atau nasi, sayuran tumis dan saus pilihan anda. Tak menyukai daging? Seafood pun bisa anda dapatkan disini. Dengan cara memasak yang sama, khusus untuk seafood mungkin anda perlu menambahkan perasan jeruk lemon untuk mengurangi rasa amis sekaligus menguatkan rasa ikan, kerang, cumi dan udang yang dihidangkan. Sebagai hidangan penutup saya berkesempatan menikmati Crepes Suzette, yaitu pancake tipis yang disajikan dengan saus strawberry dan es krim vanilla. Rasanya? Hmm? Sempurna sekali untuk menutup kunjungan perdana saya ke Stonegrill. Restoran yang didominasi oleh warna hitam dan merah ini sangat sesuai dan nyaman baik untuk kunjungan keluarga, acara khusus maupun pertemuan bisnis.
    • TAGGED: