• Home » Articles » Food
    • Latar Belakang dan Sejarah Perayaan Cap Go Meh
    • 7 years ago by Arli Wijaya
    • 10013 Hits
    • temp

      courtesy of SendokGarpu.com

      Cap Go Meh secara harfiah berarti melambangkan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan Tahun Baru Imlek bagi komunitas Tionghoa di seluruh dunia. Istilah ini berasal dari dialek Hokkien yang berarti hari ke-15 dari bulan pertama (Cap = Sepuluh, Go = Lima, Meh = Malam). Hal ini dipercaya oleh masyarakat keturunan Tionghoa sebagai masa perayaan Tahun Baru Imlek yang berlangsung selama 15 hari.

      Sebelumnya perayaan hari raya tahun baru Imlek di Indonesia memang harus melalui sejarah yang sangat panjang. Awalnya perayaan hari raya Imlek dan Cap Go Meh pada era Presiden Soekarno dirayakan secara meriah. Namun pasca tragedi G 30 S, Pemerintah era Orde Baru melarang perayaan hari raya Imlek dan Cap Go Meh karena Pemerintah Beijing dianggap menyebarkan ajaran komunis di Indonesia.

      Masyarakat Tionghoa kembali dapat merayakan hari raya Imlek dan Cap Go Meh pada era kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid. Ketika itu Presiden yang juga akrab disapa Gus Dur tersebut mencabut Inpres Nomor 14/1967 dan kemudian mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19/2001 tertanggal 9 April 2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif (hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya). Baru pada tahun 2002, tahun baru Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional oleh Presiden Megawati Soekarnoputri mulai tahun 2003.

      Tahun baru Imlek diselenggarakan pada umumnya selama 15 hari. Hari raya ini, bagi etnis Tionghoa adalah suatu keharusan untuk melaksanakan pemujaan kepada leluhur, seperti, dalam upacara kematian, memelihara meja abu atau lingwei (lembar papan kayu bertuliskan nama almarhum leluhur), bersembahyang leluhur pada hari Ceng Beng (hari khusus untuk berziarah dan membersihkan kuburan leluhur).

      Pada hari Cap Go Meh, tanggal 15 Imlek saat bulan purnama, Umat melakukan sembahyang penutupan tahun baru pada saat antara Shien Si (jam 15:00-17:00) dan Cu Si (jam 23:00-01:00). Upacara sembahyang dengan menggunakan Thiam hio atau upacara besar ini disebut Sembahyang Gwan Siau (Yuanxiaojie). Sembahyang kepada Tuhan adalah wajib dilakukan, tidak saja pada hari-hari besar, namun setiap hari pagi dan malam, tanggal 1 dan 15 Imlek dan hari-hari lainnya.

      Untuk itu, dalam rangka memeriahkan tahun baru imlek, PT. Jakarta International Expo (JIExpo) telah siap untuk menggelar Cap Go Meh Food and Festival 2014. Menyambut datangnya tahun 'kuda' ini, PT JIExpo tidak ingin melewatkan momen dan akan memperingatinya dengan menggelar sebuah festival akbar yang akan berlangsung mulai tanggal 12 hingga 16 Februari 2014 mendatang.

      Cap Go Meh Food and Festival 2014 ini merupakan event rutin tahunan yang diselenggarakan oleh PT JIExpo, setelah acara ini dinilai sukses digelar pada tahun-tahun sebelumnya. Dari sudut pandang masyrakat, event ini sudah menjadi trademark tersendiri yang diselenggarakan oleh PT JIExpo, selain event seperti Jakarta Fair Kemayoran dan event besar lainnya. Cap Go Meh Food and Festival ini selalu banyak mengundang minat pengunjung dan berhasil membukukan nilai transaksi yang besar. Uniknya, Cap Go Meh Food and Festival ini tidak hanya diarahkan ke segi perdagangan saja tetapi juga menonjolkan unsur akulturasi budaya Tionghoa dan Indonesia.

      Untuk mengulang kesuksesan pada tahun-tahun sebelumnya, PT JIExpo sudah menyiapkan beberapa program acara menarik. Selain atraksi liong dan barongsai, diselenggarakan pula atraksi wushu dan taichi, parade kembang api, akrobat mangkok pedang dan api, festival makanan dan juga penampilan atraksi Lok Thung yang didatangkan langsung dari Singkawang. Tidak ketinggalan pula acara lomba seperti lomba sempoa, lomba karaoke dan lomba berbusana imlek yang yang telah disiapkan pihak penyelenggara.** 

    • TAGGED: Cap Go Meh Food and Festival, Jiexpo, Jakarta